Paper Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menjadi kontribusi akademik mahasiswa semester tiga dalam forum AIAT 2025. Paper Mahasiswa IAT ini dipresentasikan pada sesi panel The 8th Annual Meeting of AIAT se-Indonesia and International Conference. Kegiatan ini memperkuat budaya riset mahasiswa sejak awal studi.
Forum tersebut mengangkat tema The Qur’an and Religious Literacy in Southeast Asia. Selain itu, sesi panel memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan ilmiah. Dengan demikian, mahasiswa IAT tampil aktif dalam tradisi akademik prodi.
Mahasiswa IAT menghadirkan dua kajian yang menonjolkan isu tafsir digital dan penerjemahan Al-Qur’an. Selanjutnya, masing-masing paper menawarkan pendekatan teoretis yang kuat. Keduanya memperlihatkan relevansi kajian IAT di era kontemporer.
Hermeneutika Eksistensial dalam Tafsir Digital

Fara Abelliana mempresentasikan kajian tentang Buya Syakur dan tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Qutb. Selain itu, paper ini menyoroti kanal YouTube Wamimma sebagai ruang transmisi tafsir digital. Dengan demikian, kajian ini mengaitkan tafsir, moderasi, dan media baru.
Penelitian ini menggunakan kerangka hermeneutika eksistensial Martin Heidegger. Selanjutnya, Fara menganalisis bagaimana Buya Syakur merekontekstualisasi tafsir yang sering diperdebatkan. Ia menekankan peran pra-pemahaman penafsir dalam membentuk makna.
Paper ini menemukan adanya proses “pembongkaran ontologis” atas pembacaan yang kaku. Sementara itu, Buya Syakur menampilkan tafsir yang lebih terbuka dan inklusif. Oleh karena itu, kajian ini menegaskan pentingnya konteks penafsir.
Kajian ini juga menguatkan isu moderasi beragama di ruang digital. Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa tafsir dapat membentuk dampak sosiaaraaaral. Dampak tersebut muncul melalui pola pengajaran yang rasional.
Penerjemahan Antar Baris dan Teks Otoritatif

Try Cakra Prawira mempresentasikan paper tentang penerjemahan antar baris Al-Qur’an. Selain itu, kajian ini membahas tafsir Raudhatu al-‘Irfan dan Al-Ibriz. Kedua karya tersebut menjadi representasi tradisi tafsir pesantren.
Penelitian ini menggunakan teori Peter Newmark tentang “teks otoritatif.” Selanjutnya, paper ini menempatkan penerjemahan antar baris sebagai penerjemahan semantik. Pendekatan ini menekankan kesetiaan terhadap bahasa sumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode antar baris mengutamakan level tekstual. Sementara itu, level kewajaran bahasa sasaran cenderung dikorbankan. Dengan demikian, metode ini tetap relevan sebagai skema pedagogis.
Penelitian juga menegaskan peran tafsir sebagai penjelas makna. Lebih lanjut, level referensial diwakilkan melalui komentar yang menyertai terjemahan. Temuan ini memperkuat legitimasi metode antar baris.
Penguatan Budaya Riset Mahasiswa IAT
Partisipasi mahasiswa semester tiga menunjukkan penguatan budaya akademik prodi. Selain itu, kegiatan ini melatih keterampilan presentasi ilmiah sejak dini. Pengalaman ini juga menumbuhkan daya analisis mahasiswa.
Keterlibatan mahasiswa dalam panel AIAT memperluas jejaring akademik. Selanjutnya, forum ini mendorong mahasiswa membangun tradisi riset yang berkelanjutan. Program Studi IAT terus mendorong mahasiswa berprestasi.
Dengan demikian, paper mahasiswa IAT pada forum AIAT 2025 memperkuat posisi prodi di ruang akademik. Kegiatan ini juga memperlihatkan kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan kajian kontemporer. Dengan demikian, IAT terus berkontribusi dalam pengembangan literasi keagamaan di Asia Tenggara.